PROSES PENANGKAPAN PANGERAN DIPENEGORO


Tanggal 16 Februari 1830, Pangeran Dipenegoro bersama Kyai Mohammad Syafi’i, penasehat Pangeran Dipanegoro pasca penangkapan Kyai Maja bertemu dengan wakil tentara Belanda yakni Kolonel Cleerens (mewakili Jenderal de Kock yang sedang berada di Batavia) di desa Roma Kamal, di sebelah utara Roma Jatinegara, Namun Pangeran Dipanegoro menolaknya karena Beliau menganggap Kolonel tersebut tidak setingkat dengan Pangeran Dipanegoro sebagai pemimpin perang. Hingga akhirnya tanggal 17 Februari 1830 untuk kedua kalinya Kolonel Cleerens menemui Pangeran Dipanegoro. Kali ini Beliau ditemui di desa Kejawang. Dengan alasan yang disampaikan Kolonel Cleerens akhirnya Pangeran Dipanegoro bersedia mengadakan perundingan dengan Jenderal De Kock di Magelang. Pangeran Dipanegoro pun berangkat dari desa Kejawang beserta rombongan menuju Magelang.

Sepanjang jalan menuju Magelang, Pangeran Dipanegoro disambut hikmat oleh dan hormat oleh rakyat. Pada tanggal 25 Februari 1830 Jenderal De Kock tergesa – gesa meninggalkan Batavia setelah mendengar kabar bahwa Kolonel Cleerens berhasil mengadakan perjanjian perundingan dengan Pangeran Dipanegoro  Pada tanggal 8 Maret 1830 jam 12 Siang betepatan di bulan Ramadhan, Pangeran Dipanegoro bersama rombongan kurang lebih 800 orang memasuki kota Magelang. Beliau disambut dengan upacara kehormatan oleh  Jenderal De Kock beserta opsir-opsir Belanda seperti : Kolonel Cochius, Letnan Kolonel Roest dan lain-lain. Jenderal De Kock juga mempersembahkan kuda tunggangan yang bagus sekali kepada Pangeran Dipanegoro sebagai tipu muslihat. Sebelum kedatangan Pangeran Dipanegoro di Magelang, ternyata Belanda telah menyebarkan berita palsu kepada rakyat bahwa kedatangan Pangeran Dipanegara bukan untuk berunding melainkan untuk meyerahkan diri

Kuda pemberian Jenderal De Kock diserahkan oleh Tumenggung Mangunkusuma sebagai tanda persahabatan. Esok paginya Pangeran Dipanegoro diberi uang F 5000 untuk membeli barang-barang keperluan Beliau beserta dua ekor kuda tunggangan Pangeran Dipanegoro yang berhasil ditangkap ketika peperangan.

Akhirnya perundingan dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 28 Maret 1830 (2 Syawal Tahun Jimawal 1758). Pangeran Dipanegoro datang berkuda bersama dengan Dipanegoro Muda (putra Beliau), RM. Jonad (putra Beliau), RM. Raab (putra Beliau), Basah Mertanegara dan Kyai Badaruddin beserta pengikut-pengikut setia dan sekitar 100 pasukan. Pihak Belanda diwakili oleh jenderal De Kock, Residen Valck, Letnan Kolonel Roest, Mayor Ajudan De Stuers dan Kapten Roeps sebagai juru bahasa. Perundingan dilakukan di kamar kerja Jenderal De Kock. Letnan Kolonel yang lain mengawasi perundingan di kamar yang lain. 


Inti dari Perundingan adalah Pangeran Dipanegoro tidak pernah sedikit pun berubah tekad untuk mendirikan negara merdeka di bawah pimpinan seorang pemimpin dan mengatur agama Islam di pulau Jawa. Pangeran Dipanegoro yang tadinya berniat kembali di kediaman Beliau di Meteseh dan akan melanjutkan perundingan keesokan harinya akhirnya ditangkap Belanda yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Du Perron pada pukul sepuluh pagi. Tempat perundingan yang telah dikepung oleh Belanda membuat pasukan Dipanegoro tidak berdaya. Pangeran Dipanegoro kemudian dimasukkan ke dalam kereta Residen yang sudah disiapkan. Beliau kemudian secepatnya dibawa keluar dari Magelang menuju ke Ungaran dengan pengawalan pasukan yang dipimpin oleh Mayor Ajudan De Stuers dan Kapten Roeps. Dari benteng Belanda di Ungaran, Pangeran Dipanegoro segera dibawa ke Semarang dan kemudian diangkut dengan kapal ke Batavia. Dari Batavia Beliau kemudian dibawa ke Makasar di Benteng Ujung Pandang. Akhirnya setelah menjadi tawanan yang terkurung di dalam Benteng Ujung Pandang selama 25 tahun lamanya, pada tanggal 8 Januari 1855 Pangeran Dipanegoro wafat pada usia 70 tahun.

<===== Lihat sepatu PDH                                        Lihat sepatu PDL =====>

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...